Posts

Showing posts with the label Happy

Rasa haru dan hangat di Lebaran 2022

Tidak hanya saya, tapi saya yakin bahwa mayoritas masyarakat Muslim Indonesia setuju bahwa Hari Lebaran tahun ini membawa kesan yang berbeda setelah dua tahun tidak diperbolehkan secara resmi oleh pemerintah untuk mudik. Kebersamaan yang sempat dijalin hanya melalui video call atau Zoom Meeting selama pandemi, kali ini akan dipertemukan secara tatap muka dengan sensasi yang melegakan dan membahagiakan. Saya salah satu yang merasakan berkah ini. Memutuskan untuk pulang kampung ke Bandung dua hari sebelum Hari Lebaran, membuat saya kembali merasakan rasanya mudik walau hanya sekitar 140km jaraknya dari Jakarta. Sangat tidak sabar rasanya menyambut nenek di rumah dan menyicip masakannya, baik hari H Lebaran maupun sesampainya kedatangan saya ke sana. Sebelum menyambut lebaran, di hari sama, saya bersama dengan sepupu-sepupu akan menghabiskan malam di salah satu villa daerah Dago sambil memanfaatkan waktu bersama. Lalu, sehari sebelum Lebaran, saya menginap di rumah nenek sembari mem...

Aku Si Penyandang Gelar

Kalian tahu tidak? Setiap manusia yang hidup di dunia merupakan sebuah kemenangan. Termasuk aku, termasuk kalian. Dalam hal apa? Dalam hal memperebutkan sel telur ibu. Hanya yang berhasil lah menjadi juaranya, yaitu yang membentuk kalian saat ini. Jadi, tanpa kalian melakukan apapun, untuk satu hal yang pasti, kalian adalah seorang juara. Kenapa kalian ingin menjadi juara? Coba, ya, aku jabarkan beberapa jawaban. Apakah karena demi pencapaian diri sendiri? Demi memuaskan orang lain? Atau justru, demi pengakuan dari orang lain juga? Dua jawaban terakhir terdengar menyeramkan. Sejujurnya, aku paling tidak suka ide akan adanya peran orang lain yang harus menyetir diri kalian. Tapi, terkadang yang namanya manusia, pasti pernah melakukan hal tersebut demi manusia lainnya. Ya, aku salah satunya. Aku juga pernah seperti itu. Aku ingin menjadi juara agar aku dapat dipandang sebagai orang yang mampu secara intelektual. Tapi pada akhirnya, aku sama sekali tidak mendapatkan itu! Hahaha. Aku...

Detik ini pun aku rindu

Aku memang belum pernah menceritakannya ke kamu. Karena... memang belum ingin! Hahaha. Twitter menjadi saksi bisu akan ceriwisnya aku menceritakan tentang manusia satu ini. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku sedang merindukan seseorang. Seseorang yang kukenal sejak April 2021 dan melakukan pertemuan pertama di Juni 2021. Mungkin kamu pikir pertemuan kami barulah singkat, tapi perasaan kami masing-masing tidak bisa ditentukan hanya dengan waktu singkat itu. Kami sudah saling cinta, kawan. Sekarang kamu mulai bertanya-tanya, mengapa aku bisa merindukan seseorang itu. Ah, tanpa kamu tanya juga aku akan cerita. Alasannya jelas, sebagaimana pasangan pada umumnya. Lebih spesifik, sebagaimana mereka-mereka yang bertarung melawan jarak. Wah, memang. Dengan ini, aku tidak pernah menepis kalimatnya Dilan. Rindu memang berat. Sekali lagi. Rindu memang berat. Jarakku dan manusia ini, kekasihku, sekitar 11.188 km. Awas kalau kamu bilang ini dekat! Ya, memang sejauh itu. Ada kepentingan utaman...

Aku masih bisa pulang

     Aku pernah lihat sekelibat perihal kalimat yang menyatakan bahwa, “rumah yang sebenarnya adalah berupa manusia” atau kurang lebih dalam Bahasa Inggris, “the real home is a person” , adalah kalimat yang benar. Apa hubungannya rumah dengan tema pada hari ini? Bagiku, rumah identik dengan kepulangan. Siapa pun yang menyatakan dirinya akan pulang, pasti akan menuju rumahnya masing-masing. Aku tidak peduli pada bentuk bangunan si rumah. Mau itu rumah, kontrakan, kosan, apartemen, rumah bibi, rumah nenek, atau apapun yang bisa kalian jadikan rumah, bukan itu. Itu hanya bangunan mati yang tidak memiliki makna. Yang paling berperan penting dan membuat bangunan itu menjadi hidup dan memiliki cerita adalah orang-orang di dalamnya. Bagaimana di sana ada orang tua, adik-kakak, nenek-kakak, bibi-paman, teman sebaya, dan pasangan, dialah yang kalian tuju. Dialah yang menjadi alasan mengapa kamu ingin pulang dan memutuskan untuk pulang ke sana. Aku masih bisa pulang. Ya, aku p...

Memang aku yang ingin pergi

Hanya dengan mendengar katanya saja, aku langsung tahu harus menggoreskan apa di kertas tulisku hari ini. Tidak terasa, sudah hampir setahun aku pergi. Tapi, tidak satu momen pun terlupakan karena kepergianku menghasilkan pelajaran yang amat berharga dalam hidupku. Pergi memang sebuah pilihan, namun bukan berarti kepergian dapat melupakan segala-galanya. Aku percaya itu. Dimulai sejak tahun 2017, aku memutuskan untuk memulai hubunganku dengan seseorang yang kukenal dari kelompok KKN. Kalau kamu ingat, aku pernah menuliskannya di postingan tentang KKN , walaupun singkat. Selama itu kami menjalani hubungan dengan basis perasaan yang saling terbalaskan, tanpa memedulikan status. Tapi, barulah setelah meninggalkannya, aku sadar bahwa itu sudah merupakan hal yang salah sedari awal. Awal tahun 2021, dia sudah mulai aneh. Banyak hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lihat di dirinya, tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Tidak wajar apabila aku tidak bertanya kepada diri sendiri, “selama...

Kamu berani untuk menatap langsung? Jangan tanya aku

Image
Setiap orang memiliki kemampuan untuk menghasilkan tatapan. Tidak terkecuali orang dengan disabilitas yang tidak bisa melihat pun, masih dapat menghasilkan sebuah tatapan. Sama dengan senyuman , tatapan pun maknanya ganda. Bisa dibilang, maknanya diartikan lebih banyak karena seluruh rasa emosional yang sedang kamu rasakan dapat terpancar semua melalui tatapan. Aku sendiri di sini akan membahas beberapa jenis tatapan yang menjadi tatapan favorit! Pembahasannya tidak akan jauh-jauh dari artis Korea Selatan. Beberapa dari mereka ada yang memiliki privilese bermata sipit yang tanpa usaha apapun akan menghasilkan tatapan yang “menusuk”. Jenis tatapan itulah yang rasanya ingin sekali ditatap walaupun terkesan galak atau sinis. Tapi, tatapan-tatapan itu adalah yang kusuka! Kalau boleh pilih nih, rasanya ingin sekali punya mata seperti itu agar bisa menampilkan tatapan yang serupa. Nih, aku beri contoh ketiga artis dengan tatapan yang sempurna di mataku. Ryu Junyeol Yeji ITZY JB GOT7 Bisa...

Kesukaanku rasanya berbeda dengan orang lain

Siapa yang tidak suka hujan? Pertanyaan yang orang lain dapat jawab, “tidak ada”, “entahlah, bukan urusanku”, “pasti adalah”, aku akan memilih untuk menjawab, “aku, tapi…”. Aku bisa beri penjelasan. Rata-rata orang yang menyukai hujan, mereka bersedia untuk menerabasnya dan bermain dengan ria. Istilahnya, hujan-hujanan . Memperbolehkan dirinya dibasahi sekujur tubuh oleh air yang datang dari langit dan tidak mempedulikan apapun yang ada di sekitarnya. Hujan-hujanan ini bisa dilakukan dalam berbagai kondisi. Dimulai dari rasa bahagia yang membahana sehingga ingin sekali dirayakan oleh semesta, rasa sedih dan kecewa yang membutuhkan bantuan derasnya air hujan untuk menyamarkan air mata serta teriakan yang harapannya akan terdengar samar, sampai kepada kondisi yang tidak memungkinkan untuk melipir sejenak menunggu berhentinya hujan. Tapi, tidak memanfaatkannya untuk itu. Aku bukannya tidak suka hujan, hey . Hujan menyejukkan, kok. Menghapus panasnya Kota Jakarta dan itu amat sangat...

Terima kasih atas kehadirannya

Image
Kalau kamu bertanya hal apa yang selalu ada, tidak pernah berubah dan tidak pernah pergi; adalah langit. Coba bayangkan? Mau seburuk apapun kondisi yang ia alami, tetap saja tidak pernah pergi. Selalu di sana, siap menanti seluruh pandangan yang menengadah ke atas khusus untuk menatapnya. Kalau kamu mau cari perbandingan akan hal lain yang selalu ada dan tidak pernah pergi, tanah misalnya, ada kalanya ia berubah. Kondisi geologis yang dipengaruhi beberapa hal dapat mengubahnya. Sedangkan langit, gelap atau terangnya mereka bukan karena kesalahannya. Rotasi bumilah yang memberikan kesempatan bagi matahari dan bulan untuk bersinar. Jadi, apalagi yang mau kamu bandingan dengan langit? Apakah ada lagi? Kurasa tidak. Kalau ada, tolong beritahu aku, ya. Saat ini tidak ada yang bisa menggeser posisi langit sebagai “paket lengkap”. 3 Februari 2022, 6:48 PM. Aku tidak pernah sedikit pun merasa tidak suka kepada langit, bosan pun tidak. Padahal sudah terhitung jutaan kali aku mengadahkan kepal...

Halo (Lagi)?

Mohon maaf sebesar-besarnya kepada platform blog kesayanganku yang sejak 2017 hanya diisi satu postingan per tahun, bahkan tidak di tahun 2021 kemarin. Sekali lagi, mohon maaf. Kesalahanku ini memang tiada tara, tapi, tahun ini akan berbeda, khususnya bulan ini. Februari 2022 akan menjadi bulan pertama di sepanjang sejarah tahunku menggoreskan cerita pendek di setiap harinya. Berhubung sekarang adalah hari pertama, izinkan aku kembali mencoret-coret dirimu dengan celotehan abstrak sebagai pembuka. Pertama-pertama, mari kita mulai dengan ucapan selamat datang. Selamat datang, Februari 2022! Tanggal 1 ini bertepatan dengan Tahun Baru Cina. Seluruh masyarakat sibuk dengan buah dari perayaan Imlek yang ditandai dengan pemberian angpao bagi yang membutuhkan. Tapi, kalau mau memberikan angpao ya harus sudah menikah, karena tergolog sudah mapan. Kalau belum nikah, coba bisa tanya ke teman-teman Cindo ( Chinese-Indonesian ) kalian untuk dapat data yang lebih valid , ya. Tapi kalau b...

Elmo – Petualangan Memecahkan Teka-teki: Sebuah Resensi

Image
Hai, teman-teman yang saat ini sedang menjalani karantina mandiri di kediaman masing-masing! Hari ini aku hadir dengan posting -an yang kayanya pertama kali aku lakuin, yakni meresensi buku. Buku apa kira-kira? Bukan buku pelajaran yang pasti kalau kalian lihat dari judul hahaha. Yup, ini adalah sebuah novel yang baru selesai aku baca kemarin dan yang lebih surprised -nya lagi, novel ini adalah novel karangan dari ayahku sendiri. Penasaran nggak nih sama ceritanya? Aku langsung mulai aja, ya. Sebelumnya, perkenalan dulu nih sama bukunya. Fyi , di sampul itu emang literally Elmo, adik aku. Kalau bayangin tokoh Elmo yang ada di dalam cerita itu, langsung aja bayangin anak yang ada di sampul ini karena itu memang dia. Ditulis oleh ayah, Faisal Mahbub terbitan Buku Katta, Solo. Kira-kira beginilah tampilan novel Elmo dari depan. Ganteng nggak, si Elmo? Hahaha. Pasti lah! Sekarang, kita bicara tentang resensinya. Di buku emang nggak ditulis genre dari novelnya, tapi aku...

Post-college Life

Hi, everyone ! Udah lama banget ya nggak nge- post lagi? Hahaha. Bahkan ada saat di mana waktu itu aku janji mau post lanjutan tentang HI-C, tapi, karena keterbatasan waktu dan keadaan, ngebuat aku jadi mau nulis hal lain yang nggak kalah menariknya. Apalagi hal ini adalah hal yang bena-benar terjadi sama aku, yang aku pernah alami selama beberapa bulan ini. Jadi, I let you guys know about this! Aku lulus bulan November 2018 dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta program studi Ilmu Hubungan Internasional. Alhamdulillah, 4 tahun studi. Tapi, yang jadi tantangan paling menarik dari yang menarik adalah, bagaimana kehidupanku setelah officially lepas jadi mahasiswa? Yup, ternyata sulit hahaha. Tapi, aku udah ngelewatin itu semua dengan statusku yang sekarang menjadi salah satu pekerja di Klinik Kecantikan dengan posisi Digital Media and Advertising di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Jangan kaget akan mengapa pekerjaanku sekarang, karena, aku pun nggak pernah nyangka kalau a...

Kurcaci-kurcaci HI-C

( Sebelumnya, mungkin menulis dengan menggunakan “saya” sebagai subjek akan menjadi lebih menarik. ) Hi, folks. Long time no see ! Waktu itu saya sempat men- spoiler bahwa di posting -an selanjutnya saya akan mem- post tentang HI-C. Sumpah, seharusnya posting -an ini di- posting pada tahun 2015 di saat saya menginjak semester 3, namun karena tertimpa oleh badai tugas dan organisasi membuat saya melupakan postingan yang saya sayangi ini. Sebelumnya saya review kembali, HI-C adalah kelas saya dari semenjak semester 1. Namun, begitu sudah tidak ada kelas lagi di semester penghujung ini, bahkan grup HI-C sudah berganti nama menjadi “2018 LOELOES!!!”, saya masih menganggap diri saya berada di kelas HI-C dan memang akan seperti itu sampai kapan pun. Seperti anggapan yang banyak dimiliki orang-orang apabila mendengar kata “kelas C” di benaknya, di fakultas atau bahkan kampus tercintaku juga seperti itu. Normatifnya, pembagian kelas kami berdasarkan jalur masuk yang ditempuh. Je...