Posts

Showing posts with the label Disappointed

Mari coba lupakan

Sejujurnya, ini adalah hal yang amat tidak menyenangkan. Aku sendiri tidak suka. Apa yang dinikmati dari usaha untuk melupakan? Banyak yang bilang kalau semakin kita mencoba untuk melupakan, semakin pula ingatan kita membantah dan terus mengingatnya. Bagaimana kita tidak terus mengingatnya? Dalam proses melupakan pun, kita “mengingatkan” otak kita untuk “melupakan” itu, kan? Kunci utamanya saja mengingat untuk lupa, akan mustahil apabil ingin melupakan tapi tidak akan teringat sama sekali. Setidaknya, itu sendiri yang aku rasakan. Tadinya tidak ada niat, namun rasanya aku sambungkan saja ceritaku kemarin tentang teman . Lebih tepatnya, mantan teman. Setelah berakhirnya hubungan kami sebagai teman (loh, ternyata juga bisa, ya, dalam pertemanan berubah status!) , tentunya kenangan-kenangan itu masih teringat jelas dalam pikiranku. Bagaimana tidak? Intensitas yang tercipta, walaupun tidak dalam waktu yang lama, sudah menciptakan itu semua. Sebagai orang yang benar-benar memaknai kehad...

Buat apa?

Beberapa waktu lalu, ada sebuah keributan yang terjadi di dunia media sosial Indonesia perihal hak masyarakat untuk tetap pergi ke tempat keramaian. Objek percekcokan pada saat itu adalah tempat clubbing . Tentunya, ini menuai keberpihakan para warganet akan setuju atau tidak setuju. Pikiranku langsung tertuju pada hal-hal lain yang berirama sama, bagaimana dengan orang-orang yang memutuskan untuk tetap menggelar pesta di tengah bencana seram ini? Jawabannya, semua bisa terjadi. Masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia, atau bahkan seluruh masyarakat di belahan dunia ini, rasanya sudah lelah menghadapi bencana yang sudah ada di tahun ketiga ini. Mereka terlalu lelah untuk menahan segala kegiatan yang tertunda dan merasa bahwa kali ini setidaknya mereka bisa merasakannya kembali. Belum lagi, mayoritas dari mereka sudah menjalankan perintah negara dengan melakukan vaksinasi sebagai upaya melindungi diri. Semakin menciptakan pemikiran bahwa mereka saat ini semakin baik-baik saja dan s...

Minggu ini cukup melelahkan

Jujur saja, pada saat menentukan tema di hari kesembilan ini, sebenarnya memang sedang terjadi di diriku sendiri. Sebagaimana yang kalian ketahui bahwa aku sedang berada di dalam sebuah rangkian kegiatan (bisa dibaca di sini ya!), tanggal 9 ini adalah hari di mana semuanya berubah. Dari puluhan peserta yang ikut dalam acara tersebut, ditemukan 3 (tiga) peserta yang terkena arus bencana mengerikan beberapa tahun terakhir ini. Otomatis, acara tidak bisa dilanjutkan karena seluruh peserta maupun panitia harus melakukan isolasi mandiri. Semuanya berubah. Senyap seketika melanda lantai lima penginapan tempat acara digelar. Seluruh panitia sudah dilakukan swab antigen dan satu dari kami harus gugur. Aku salah satu orang yang kontak erat dengannya. Sedih sekali mengetahui fakta ini. Hasil tes menunjukkan “negatif” untukku, tapi ini bukanlah akhir dari segalanya. Segera kuhubungi temanku itu dan ia baru saja selesai menangis, mengeluarkan seluruh perasaannya dan mencoba untuk menerima ke...

Apa itu bisa disebut sebagai teman?

Yang namanya makhluk sosial, tidak akan bisa hidup tanpa melakukan aktivitas sosial. Bersosialisasi adalah salah satunya, salah satu cara makhluk sosial untuk bertahan hidup. Dengan bersosialisasi, tentunya akan tercipta interaksi-interaksi yang nantinya membentuk sebuah relasi. Relasi yang dibuat oleh makhluk sosial akan memberikan dampak kepada pemberian status kepada makhluk sosial lainnya, salah satu statusnya adalah “teman”. Kira-kira, kapan kamu bisa menyebut seseorang sebagai temanmu? Apakah kamu punya tolak ukur? Kalau aku sendiri, begitu aku mengenalnya dan memiliki interaksi yang cukup intensif, aku akan mengatakannya sebagai teman. Walaupun terpisahkan jarak dan (mungkin) belum pernah melihat wajahnya karena berteman dari media sosial, tetap aja mereka adalah temanku. Aku menilai seorang teman dari intensitas interaksi yang tercipta tanpa memandang hal-hal lainnya. Kalau definisi aku diadopsi oleh banyak orang, maka orang-orang tersebut dapat dikatakan banyak memiliki t...

Perkenalkan, bencana terseram seumur hidup

Sayang sekali. Saat aku mencoretmu tahun 2020, aku sama sekali tidak memperkenalkanmu pada bencana terseram dunia yang sedang terjadi. Ya, sejak 2020, bahkan akhir 2019, terjadi dan sedang terjadi sampai detik aku menuliskan kata ini. Namanya Covid-19. Tidak perlu panjang lebar menjelaskan karena informasi sudah tersedia dan tak berbayar di internet, namun bencana ini adalah sebuah penyakit berbentuk virus yang menyerang populasi manusia dan hewan ( untung saja tumbuhan tidak ). Mereka kejam, sehingga “bencana” menjadi nama panggil yang sesuai dan fakta pun mengatakan demikian. Sebelumnya memang dunia ini pernah mengalami bencana yang sama, kiranya sekitar tahun 1912 saat terjadinya Flu Spanyol setelah Perang Dunia I. Bencana ini menelan puluh juta korban jiwa sampai akhirnya bisa pulih kembali setelah dua tahun berjibaku dengan populasi manusia. Nah, untuk bencana kali ini, hitungannya sudah dimulai sejak 2019 dan ini adalah tahun kedua mereka hadir ke dunia. Korban pun sudah jutaa...

Kisahku Selama Tiga Puluh Lima Bulan

P.S: Pada awalnya, cerita ini saya kirim untuk sebuah lomba. Namun, saya tertarik untuk memublikasikannya di sini. Cerita ini terinsipirasi dari seseorang yang sangat kucintai. Teruntuk sepupuku tersayang, Navida Audy Salsabila :)                 Aku terdiam meratapi vespa merah mudaku yang sudah berkali-kali menginap di bengkel untuk diperbaharui. Ya, Srikandi memang sudah tua. Karena itulah aku mudah mendapatkan Srikandi dengan harga yang ‘mudah’ juga. Aku tersenyum simpul apabila mengingat bagaimana perjuanganku untuk membeli Srikandi. Sejuknya hembusan angin Bandung memerintahkanku untuk mempererat jaket yang sedang kukenakan. Begitu pula dengan jilbabku yang terkadang harus kurapikan karena terpaan angin sejuk ini. Tapi tidak apa-apa, aku sangat menikmati suasana seperti ini. Suasana yang selalu kurasakan bersama seseorang yang sudah mengisi kekosongan hatiku selama tiga puluh lima bulan. Aku menggeleng sambil menghembuskan napas, aku ha...

My Recent Activities in 4 Months

Ola’s back….. Ola’s back…. Ola’s back back back back (?) OLA IS BAAAAACCCKKKK !!! Haloooooooo akhirnya bisa lagi nulis di blog tercintaku ini :3 hmm ada kali 4 bulanan nggak nulis di sini. Jadi sekarang, quality time banget nih antara aku, laptop, dan blog-ku tercinta Sekarang gue bukan anak SMA lagi. Yes!!! Gue udah resmi jadi alumni SMA Negeri 1 Cikarang Utara tanggal 31 Mei 2014. Gue juga udah selesai UN *iyalah -_-* dan udah tau juga pengumumannya beserta pengumuman SNMPTN dan SBMPTN yang nggak sempet aku posting ke sini satu persatu saking sibuknya berpacu dengan buku-buku pelajaran. Ok, karena sekarang gue lagi punya banyak leisure time, jadi alangkah baiknya gue share semua yang udah gue lalui selama hmm hampir 4 bulan ini :) Setelah selesai UN, itu bukanlah akhir dari segalanya. Justru awal dari menempuh masa depan serba baru. Entah tempatnya yang baru, lingkungannya, kelasnya, gurunya, teman-temannya, karena selanjutnya kita nggak akan datang sebagai murid lagi, melain...

Keluarga(lama)ku

Yaaaa entah kenapa saya ingin sekali menuliskan perihal ini. Kalau saya bilang dengan istilah ‘lama’, kesannya seperti benar-benar sudah lama. Tapi, yang saya maksud lama di sini adalah keluarga yang harus… saya tinggalkan. Walaupun saya sama sekali tidak rela untuk meninggalkan mereka semua. Keluarga-keluargaku yang sudah menemaniku hampir satu tahun penuh. Keluarga-keluargaku yang berasal dari berbagai jenis organisasi dan beragam tingkat usia. Saya harus berterima kasih, kepada mereka yang sudah menggiringku sampai sekarang. Yang juga sudah menggiring teman-temanku yang lain, dengan tingkat kesabaran yang pastinya tidak mudah. Padahal, saya ingin sekali menggantikan posisi mereka. Saya ingin merasakan apa yang mereka rasakan, bagaimana tindakan menghadapi kita-kita yang ‘seperti ini’, dan masih banyak lagi yang ingin saya rasakan. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Sudah berapa event ya, yang sudah kita lakukan bersama-sama? Sekitar 7 acara yang kami rangkai bersama-sama. Bai...

Pilihan

Pilihan. Sesuatu yang harus dilakukan, dimana kita sudah terjebak dalam dua lubang yang sudah membawa kita tenggelam sampai dasar. Pilihan. Sesuatu yang pastinya tidak ingin dilakukan oleh sebagian besar orang di dunia. Pilihan. Menentukan salah satu yang terpenting, dan meninggalkan sesuatu yang terpenting lainnya. Pilihan. Sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan. Yang mau tidak mau harus rela merelakan yang satunya. Pilihan. Sesuatu yang tidak pernah ku harapkan untuk ada. Sesuatu yang tidak pernah ingin ku alami sendiri. Pilihan. Belajar tidak menyesali sesuatu yang tidak terpilih, dan mulai menerima sesuatu yang terpilih. Pilihan. Sangat sulit untuk melakukannya. Sangat sulit. Pilihan. Sesuatu yang benar-benar membuat otak bekerja keras untuk berpikir, mana diantaranya yang lebih tepat untuk di pilih. Pilihan. Belajar memilih sesuatu yang kita pilih setengah hati; setengah hati lagi berada oada sesuatu yang tidak terpilih. Dan, pilihan, adalah salah satu tant...

Tidak Sepantasnya

Aku lelah melihatmu selalu dipermainkan olehnya. Perasaan campur aduk antara kesal, benci, kecewa, semua sangat terasa begitu mendengar ceritamu tentang lelaki jalang itu. Untuk kesekian kalinya, kamu menceritakan dia lagi. Dengan fakta-fakta terbaru yang malah membuatku semakin panas mendengarnya, tapi tidak buat kamu. Pertama kalinya kamu mendapat pesan yang berisi sesuatu yang tak wajar, kamu senang bukan main. Sedangkan aku? Hah, aku tidak percaya dengan drama puitis yang selalu dia ciptakan untukmu. Satupun, tidak akan percaya. Sudah banyak bukti-bukti yang membuktikan kalau dia adalah lelaki jalang yang sangat sangat tidak pantas untukmu. Lelaki jalang yang dengan gampangnya menjadikanmu seperti boneka; mudah di peluk, mudah di lempar. Apa itu pantas? Untuk sesorang seperti kamu yang belum berpengalaman dalam hal percintaan? Hati-hati. Dia sangat liar untukmu! Lelaki yang hanya membutuhkanmu pada saat dia dan kekasihnya sedang di landa masalah, lelaki yang hanya menampakan dir...

The Announcement

The announcement has been released. And... I didn’t. I didn’t get the chance for student exchanged. Yes, I didn’t see my name on 13 students who slipped away and will go to abroad. Definitely, I disappointed. But, I was a big 21 students. I’m proud of that. And I also proud because my parents supported me before, but now. I disappointed them. I couldn’t make them happy because of that announcement. But, I already do my maximum effort for this. And I’m a bit consoled when Sulthan said, “La, padahal gue berharap banget lo bisa dapet. Tapi, tenang. Kita pergi ke luar negerti bareng-bareng pake uang kita sendiri!” I laughed and hold back my tears. I understand. Maybe, this program was not my fate. Furthermore, I want to find many kinds of that program and I’ll try to get that chance. Someday, I’ll believe 

Wujud Kekecewaanku Terhadap Indonesia

Indonesia. Ya, Indonesia adalah tanah airku. Tempat dimana aku dilahirkan, dibesarkan, dan dipelihara. Aku lahir di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Aku juga bersekolah di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia. Begitu pula dengan kedua orang tuaku, mereka dilahirkan di Medan dan di Bandung. Keduanya merupakan kota di Indonesia. Jadi sudah jelas, kalau Indonesia adalah negaraku. Tanah airku. Tapi kalau sudah seperti ini, apakah boleh kalau aku beranjak pergi dan menjadi warga Negara asing? Aku cinta Indonesia. Tapi aku tidak ingin menjadi Warga Negara Indonesia. Aku tidak mau. Negara ini sudah hancur dimana aku baru mulai melangkah menggapai masa depan. Indonesia bukanlah lagi Indonesia yang asri, tidak seperti dulu. Indonesia sudah tercemar. Bahkan, mendekati hancur. Aku sangat kecewa. Sangat malu. Sebagai warga, aku merasa sangat sangat kecewa dengan orang-orang Indonesia yang telah menyalahgunakan sesuatu yang membuat nama Indonesia tercemar di mata rakyat-rakyatnya, apalagi...