Posts

Showing posts with the label Enjoyed

Rasa haru dan hangat di Lebaran 2022

Tidak hanya saya, tapi saya yakin bahwa mayoritas masyarakat Muslim Indonesia setuju bahwa Hari Lebaran tahun ini membawa kesan yang berbeda setelah dua tahun tidak diperbolehkan secara resmi oleh pemerintah untuk mudik. Kebersamaan yang sempat dijalin hanya melalui video call atau Zoom Meeting selama pandemi, kali ini akan dipertemukan secara tatap muka dengan sensasi yang melegakan dan membahagiakan. Saya salah satu yang merasakan berkah ini. Memutuskan untuk pulang kampung ke Bandung dua hari sebelum Hari Lebaran, membuat saya kembali merasakan rasanya mudik walau hanya sekitar 140km jaraknya dari Jakarta. Sangat tidak sabar rasanya menyambut nenek di rumah dan menyicip masakannya, baik hari H Lebaran maupun sesampainya kedatangan saya ke sana. Sebelum menyambut lebaran, di hari sama, saya bersama dengan sepupu-sepupu akan menghabiskan malam di salah satu villa daerah Dago sambil memanfaatkan waktu bersama. Lalu, sehari sebelum Lebaran, saya menginap di rumah nenek sembari mem...

Aku masih bisa pulang

     Aku pernah lihat sekelibat perihal kalimat yang menyatakan bahwa, “rumah yang sebenarnya adalah berupa manusia” atau kurang lebih dalam Bahasa Inggris, “the real home is a person” , adalah kalimat yang benar. Apa hubungannya rumah dengan tema pada hari ini? Bagiku, rumah identik dengan kepulangan. Siapa pun yang menyatakan dirinya akan pulang, pasti akan menuju rumahnya masing-masing. Aku tidak peduli pada bentuk bangunan si rumah. Mau itu rumah, kontrakan, kosan, apartemen, rumah bibi, rumah nenek, atau apapun yang bisa kalian jadikan rumah, bukan itu. Itu hanya bangunan mati yang tidak memiliki makna. Yang paling berperan penting dan membuat bangunan itu menjadi hidup dan memiliki cerita adalah orang-orang di dalamnya. Bagaimana di sana ada orang tua, adik-kakak, nenek-kakak, bibi-paman, teman sebaya, dan pasangan, dialah yang kalian tuju. Dialah yang menjadi alasan mengapa kamu ingin pulang dan memutuskan untuk pulang ke sana. Aku masih bisa pulang. Ya, aku p...

Memang aku yang ingin pergi

Hanya dengan mendengar katanya saja, aku langsung tahu harus menggoreskan apa di kertas tulisku hari ini. Tidak terasa, sudah hampir setahun aku pergi. Tapi, tidak satu momen pun terlupakan karena kepergianku menghasilkan pelajaran yang amat berharga dalam hidupku. Pergi memang sebuah pilihan, namun bukan berarti kepergian dapat melupakan segala-galanya. Aku percaya itu. Dimulai sejak tahun 2017, aku memutuskan untuk memulai hubunganku dengan seseorang yang kukenal dari kelompok KKN. Kalau kamu ingat, aku pernah menuliskannya di postingan tentang KKN , walaupun singkat. Selama itu kami menjalani hubungan dengan basis perasaan yang saling terbalaskan, tanpa memedulikan status. Tapi, barulah setelah meninggalkannya, aku sadar bahwa itu sudah merupakan hal yang salah sedari awal. Awal tahun 2021, dia sudah mulai aneh. Banyak hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lihat di dirinya, tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Tidak wajar apabila aku tidak bertanya kepada diri sendiri, “selama...

Kamu berani untuk menatap langsung? Jangan tanya aku

Image
Setiap orang memiliki kemampuan untuk menghasilkan tatapan. Tidak terkecuali orang dengan disabilitas yang tidak bisa melihat pun, masih dapat menghasilkan sebuah tatapan. Sama dengan senyuman , tatapan pun maknanya ganda. Bisa dibilang, maknanya diartikan lebih banyak karena seluruh rasa emosional yang sedang kamu rasakan dapat terpancar semua melalui tatapan. Aku sendiri di sini akan membahas beberapa jenis tatapan yang menjadi tatapan favorit! Pembahasannya tidak akan jauh-jauh dari artis Korea Selatan. Beberapa dari mereka ada yang memiliki privilese bermata sipit yang tanpa usaha apapun akan menghasilkan tatapan yang “menusuk”. Jenis tatapan itulah yang rasanya ingin sekali ditatap walaupun terkesan galak atau sinis. Tapi, tatapan-tatapan itu adalah yang kusuka! Kalau boleh pilih nih, rasanya ingin sekali punya mata seperti itu agar bisa menampilkan tatapan yang serupa. Nih, aku beri contoh ketiga artis dengan tatapan yang sempurna di mataku. Ryu Junyeol Yeji ITZY JB GOT7 Bisa...

Kesukaanku rasanya berbeda dengan orang lain

Siapa yang tidak suka hujan? Pertanyaan yang orang lain dapat jawab, “tidak ada”, “entahlah, bukan urusanku”, “pasti adalah”, aku akan memilih untuk menjawab, “aku, tapi…”. Aku bisa beri penjelasan. Rata-rata orang yang menyukai hujan, mereka bersedia untuk menerabasnya dan bermain dengan ria. Istilahnya, hujan-hujanan . Memperbolehkan dirinya dibasahi sekujur tubuh oleh air yang datang dari langit dan tidak mempedulikan apapun yang ada di sekitarnya. Hujan-hujanan ini bisa dilakukan dalam berbagai kondisi. Dimulai dari rasa bahagia yang membahana sehingga ingin sekali dirayakan oleh semesta, rasa sedih dan kecewa yang membutuhkan bantuan derasnya air hujan untuk menyamarkan air mata serta teriakan yang harapannya akan terdengar samar, sampai kepada kondisi yang tidak memungkinkan untuk melipir sejenak menunggu berhentinya hujan. Tapi, tidak memanfaatkannya untuk itu. Aku bukannya tidak suka hujan, hey . Hujan menyejukkan, kok. Menghapus panasnya Kota Jakarta dan itu amat sangat...

Terima kasih atas kehadirannya

Image
Kalau kamu bertanya hal apa yang selalu ada, tidak pernah berubah dan tidak pernah pergi; adalah langit. Coba bayangkan? Mau seburuk apapun kondisi yang ia alami, tetap saja tidak pernah pergi. Selalu di sana, siap menanti seluruh pandangan yang menengadah ke atas khusus untuk menatapnya. Kalau kamu mau cari perbandingan akan hal lain yang selalu ada dan tidak pernah pergi, tanah misalnya, ada kalanya ia berubah. Kondisi geologis yang dipengaruhi beberapa hal dapat mengubahnya. Sedangkan langit, gelap atau terangnya mereka bukan karena kesalahannya. Rotasi bumilah yang memberikan kesempatan bagi matahari dan bulan untuk bersinar. Jadi, apalagi yang mau kamu bandingan dengan langit? Apakah ada lagi? Kurasa tidak. Kalau ada, tolong beritahu aku, ya. Saat ini tidak ada yang bisa menggeser posisi langit sebagai “paket lengkap”. 3 Februari 2022, 6:48 PM. Aku tidak pernah sedikit pun merasa tidak suka kepada langit, bosan pun tidak. Padahal sudah terhitung jutaan kali aku mengadahkan kepal...